Sekilas
Tentang Porang atau Konjac

Tanaman porang (Amorphophallus oncophyllus) merupakan tanaman anggota famili Araceae yang secara umum dikenal dengan nama bunga bangkai karena bau bunganya yang tidak sedap. Di beberapa daerah, tanaman ini dikenal dengan nama iles-iles, iles kuning, acung atau acoan. Tanaman porang merupakan tanaman asli Indonesia dan sudah sejak lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Meskipun sudah lama dikenal dan dimanfaatkan, namun aspek budidaya tanaman tersebut, lebih-lebih prosesingnya tidak berkembang. Masyarakat hanya mengambil dari pertanaman yang tumbuh liar di bawah tegakan pohon atau di sekitar hutan, dan menjualnya dalam bentuk umbi basah.
Sifat tanaman porang yang toleran terhadap naungan, memungkinkan tanaman ini dibudidayakan di lahan hutan industri di bawah tegakan pohon jati, sonokeling, mahoni ataupun sengon.
Tanaman porang pada beberapa tahun terakhir ini menjadi popular karena toleran naungan, mudah dibudidayakan, mempunyai produktivitas yang tinggi, hama/penyakit yang menyerang relatif sedikit, permintaan pasar baik dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Dari aspek budidayanya, untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang optimal, diperlukan kondisi lingkungan tumbuh yang optimal pula.
Porang juga salah satu kekayaan hayati umbi-umbian Indonesia. Sebagai tanaman penghasil karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat pangan. Tanaman porang sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan diekspor sebagai bahan baku industri.
Karbohidrat merupakan komponen penting pada umbi porang yang terdiri atas pati, glukomannan, serat kasar dan gula reduksi.
Glukomannan dapat dimanfaatkan pada berbagai industri pangan, kimia, dan farmasi, antara lain untuk produk makanan, seperti konnyaku, shirataki (berbentuk mie); sebagai bahan campuran/tambahan pada berbagai produk kue, roti, es krim, permen, jeli, selai, dan lain-lain; bahan pengental pada produk sirup dan sari buah; bahan pengisi dan pengikat tablet; bahan pelapis (coating dan edible film); bahan perekat (lem, cat tembok); pelapis kedap air; penguat tenunan dalam industri tekstil; media pertumbuhan mikrobia; dan bahan pembuatan kertas yang tipis, lemas, dan tahan air.
Pengolahan porang terutama dilakukan untuk mendapatkan komponen glukomannannya. Produk porang yang biasa diolah dan dipasarkan dari umbi segar adalah chips, tepung porang (konjac flour) dan tepung glukomannan (konjac glucomannan).
Sumber: http://www.litbang.pertanian.go.id
Humas KPH Saradan, Ida Alfiyanti, Senin (11/2) mengatakan, Porang merupakan komoditi andalan program pemanfaatan lahan dibawah tegakan di wilayah KPH Saradan. Tanaman tersebut telah dikembangkan penduduk Desa Klangon yang sejak tahun 1986 dan dalam kurun waktu 30 tahun sampai sekarang berkembang pesat menjadi komoditi penting.
Sejarah budidaya Porang di Saradan dimulai di Desa Klangon, Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun. Masyarakat Desa Klangon mengenal Porang seperti tanaman iles-iles lainya yang tumbuh liar di hutan, kebun dan pekarangan-pekarangan yang ternaungi pohon.
Sekitar tahun 1975 Porang dikenalkan oleh pedagang dari Nganjuk sebagai umbi yang menguntungkan, sehingga masyarakat berbondong-bondong untuk mengeksploitasi Porang yang tumbuh liar di hutan. Karena persediaan umbi porang semakin lama semakin berkurang sedangkan kebutuhan pasar masih terbuka lebar, maka pada tahun 1984 masyarakat mencoba untuk membudidayakannya di lahan hutan Perum Perhutani KPH Saradan yaitu di bawah tegakan Sono dan Jati.
Tahun 1987, dilakukan kegiatan panen raya porang pertama dan memberikan keuntungan yang tinggi bagi masyarakat Klangon. Karena karakteristik tanaman Porang bisa bersimbiosis mutualisme dengan tanaman hutan, bernilai ekonomi dan sosial yang tinggi, maka pada tahun 1988 Perum Perhutani mengijinkan masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Rino Kartiko yang beranggotakan 18 orang untuk membudidayakan Porang dalam skala besar khususnya di bawah tegakan Sono dan Jati berumur 40 tahun keatas.
Sejak tahun 2001, di Desa Klangon mulai dirintis untuk dilaksanakan program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) dan tahun 2005 telah dilaksanakan penandatanganan perjanjian kerjasama PHBM antara Perhutani KPH Saradan dengan LMDH Pandan di hadapan Notaris.
Saat itu, objek kerjasamanya meliputi seluruh aspek kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan, mulai dari perencanaan, persemaian, tanaman, pemeliharaan, keamanan, produksi dan pemasaran hasil hutan, serta kegiatan agribisnis antara lain penanaman Porang, Jagung dan Empon-empon.
Sebelumnya diberitakan, untuk penanaman, diperkirakan menghabiskan sekitar Rp 4 juta per hektare. Dana tersebut digunakan baru untuk penanaman tahun pertama. ''Porang itu tahun pertama belum bisa dinikmati hasilnya, baru bisa dinikmati tahun ketiga setelah melewati masa tanam di tahun pertama,'' katanya.
Porang hanya perlu ditanam sekali, namun bisa berproduksi terus menerus sehingga tidak perlu ditanam lagi. Untuk tahun pertama pembiayaannya cukup besar. Pada tahap awal atau penanaman tahun pertama untuk mendapatkan hasil 11.792 ton Porang diperlukan biaya sekitar Rp 33 miliar.
Porang atau Amorphophallus Onchophyllus oleh masyarakat Jawa dikenal dengan nama Iles-Iles atau suweg. Tanaman ini merupakan tumbuhan semak (herba) yang memiliki tinggi 100-150 cm dengan umbi yang berada di dalam tanah. Porang bisa digunakan sebagai bahan makanan seperti mie, tahu, shirataki dan konyaku.
Umbi porang juga digunakan sebagai bahan baku dalam industri lem, campuran bahan kertas, pengganti media tumbuh mikroba, isolator listrik, bahan parasut, bahan obat, penjernih air, pengikat formula tablet, dan pengental sirup. (jal)
Sumber: http://kominfo.jatimprov.go.id
Provided by: PT. Indah Persada Utama
Altargy Group © 2015 Privacy Policy Term of Use, All Rights Reserved